“Saat kamu tercecer. Isi kepala dan hatimu tercabik hingga lepas. Kupunguti dan kukunyah mereka pelan-pelan. Agar seluruhnya menyatu denganku. Hah. #memetwitgagal #malahgalau” —@dwiariyani
“Saat kamu tercecer. Isi kepala dan hatimu tercabik hingga lepas. Kupunguti dan kukunyah mereka pelan-pelan. Agar seluruhnya menyatu denganku. Hah. #memetwitgagal #malahgalau” —@dwiariyani
“Lalu aku memikirkan orang-orang lain yang menghilang dari hidupku. Ketiadaan ayahku bagaikan rasa nyeri samar yang menetap di dalam dada. Tapi, rasa sakit yang lembut, karena disertai begitu banyak kenangan bahagia.” —The Monk Who Sold His Ferrari
Menjelang 2014, suhu politik memanas. Sepanas siang yang terik, macet, penuh bunyi klakson, lengkap dengan pemandangan foto artis terpampang dengan slogan penuh janji. Terang saja, artis tersebut pun ikut mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.
Ibarat kereta: kamu adalah kereta ekonomi. Terlalu banyak berhenti di tempat dan saat yang tak terduga. Namun, kamu selalu menawarkan pemandangan yang lebih beragam dibanding kereta lainnya. Bahkan lebih banyak kejutan. Memang kadang menjengkelkan, namun porsi menyenangkan terasa lebih dominan. Terlebih senyumanmu yang sumringah seharga tiket kereta ekonomi, murah. Ya, begitu mudah kau bagi kebahagiaan, tak kau minta harga mahal, tapi yang kau berikan justru tak ternilai.
